Diberdayakan oleh Blogger.


Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Jepang adalah salah satu negara yang memiliki 4 musim. Bukan cuma sekedar 4 musim saja, akan tetapi bisa dikatakan Jepang merupakan negara yang benar benar kontras dalam perubahan 4 musim ini. Tidak hanya pada perubahan cuaca dan suhu disetiap musimnya akan tetapi juga pada cara masyarakat Jepang beradaptasi untuk menyambut dan menjalani setiap perubahan musim tersebut. 

Sebut saja dengan menikmati Hanami saat musim semi (Haru), lalu menikmati libur panjang Golden week untuk menyambut musim panas (Natsu) yang dihiasi dengan banyaknya jenis perayaan natsu matsuri , pesona daun daun yang mulai menguning dan berwana merah pada saat musim gugur (Aki) tiba, tentunya tidak ketinggalan kemeriahan natal di akhir tahun dan meriahnya perayaan festival salju pada saat musim dingin (Fuyu). 4 musim yang menawarkan 4 pengalaman dan chiri khas yang berbeda, tidak salah jika menyebut warga Jepang sebagai salah satu yang “benar benar” hidup dalam 4 musim yang berbeda.


Lho…. Apa ada yang salah dengan judul postingan ini? Oh iya!! Kenapa bisa ada 6 musim? sudah jelas kan Jepang hanya memiliki 4 musim? tunggu dulu minna-san….. selain Haru, Natsu, Aki, dan Fuyu ada dua musim lagi di Jepang yang memang tidak setenar ke empat musim di atas, siapakah mereka? Perkenalkan, Tsuyu dan Typhoon.

Tsuyu dan Typhoon, dua musim yang tidak terlalu sering kita dengar bahkan mungkin beberapa dari minna-san belum pernah sama sekali mendengar dua musim ini ada di Jepang, hayoo ngaku minna-san yang belum kenal sama Tsuyu dan Typhoon. Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa 2 musim ini tidak seterkenal 4 musim lainnya? Apakah keputusan tepat mengunjungi Jepang pada saat 2 musim ini berlangsung? mari kita berkenalan dulu lebih lanjut dengan 2 musim ini minna-san.

Tsuyu


Tsuyu (musim hujan) atau jika diartikan memiliki makna “Hujan Plum” karena musim hujan di Jepang bertepatan dengan matangnya buah plum atau yang dikenal sebagai buah ume di Jepang. Musim hujan ini disebabkan oleh pergerakan masa udara panas dari bagian utara bumi dengan masa udara dingin dari bagian selatan bumi yang bertemu di Jepang sehingga mengakibatkan curah hujan di Jepang meningkat drastis.

Tsuyu biasanya terjadi pada periode rentang waktu diantara awal bulan Juni hingga akhir Juli meskipun rentang waktu ini berbeda pada beberapa daerah di Jepang, Tsuyu datang lebih awal di daerah sekitar kepulauan Okinawa dan Hokkaido menjadi satu satunya daerah yang tidak terlalu terkena dampak dari Tsuyu. Selama Tsuyu, Jepang mengalami cuaca buruk yang relatif konstan disertai dengan turunnya hujan ataupun gerimis ringan sehingga membuat suhu udara sedikit lembab, biasanya Tokyo mendapat curah hujan yang tidak terlalu tinggi pada saat Tsuyu (sebelum memasuki musim panas) dibandingkan dengan pada bulan September.

Traveling saat Tsuyu


Meskipun Tsuyu bukanlah periode terbaik untuk berkunjung ke Jepang, bukan berarti minna-san tidak dianjurkan untuk berkunjung ke Jepang saat musim ini berlangsung. Pada saat Tsuyu tidak setiap harinya hujan selalu mengguyur Jepang. Curah hujan yang turun bisa bervariasi dari hari ke hari, terkadang cuaca yang berawan dan suhu udara yang lembab pada saat Tsuyu sangat cocok untuk bepergian.

Terlebih lagi pada saat Tsuyu kegiatan pariwisata di Jepang sedang dalam periode low season sehingga minna-san bisa lebih leluasa saat mengeksplorasi suatu spot wisata. Banyak atraksi dan spot spot wisata yang terkenal tidak terlalu dibanjiri pengunjung pada saat Tsuyu, tentunya ini bisa sangat menyenangkan bagi minna-san yang tidak terlalu suka keramaian dan antrian selama 2 jam hanya untuk membeli semangkuk ramen. Beberapa spot wisata memiliki daya tarik dan atmosfir spesial pada saat Tsuyu seperti taman, kuil, dan tentunya bersantai sambil menghangatkan badan dari sejuknya udara di pemandian pemandian air panas.


Hal yang perlu minna-san perhatikan saat mengunjungi Jepang pada musim ini adalah waktu, tempat, dan perlengkapan yang tepat. Jangan lupa selalu membawa payung kemanapun minna-san akan pergi, juga siapkan jas hujan karena sewaktu waktu hujan lebat bisa saja mengguyur, selalu cek ramalan cuaca pada saat minna-san ingin pergi ke luar atau berkunjung ke suatu tempat wisata, dan jika minna-san tidak terlalu suka ataupun memiliki kesehatan yang rentan terhadap suhu lembab tentunya berkunjung ke Hokkaido adalah pilihan yang tepat saat musim Tsuyu berlangsung.

Typhoon


Typhoon (musim angin topan) bisa melanda Jepang hampir sepanjang tahun mulai dari bulan Juni hingga akhir Oktober namun puncak dari musim Typhoon di Jepang adalah antara bulan Agustus dan September ketika suhu air di perairan laut pada bagian utara Jepang menjadi lebih hangat dibandingkan daerah selatan. Rata rata ada sekitar 11 Typhoon yang menghantam Jepang setiap tahunnya sehingga mempengaruhi secara langsung cuaca di Jepang, biasanya menyebabkan angin yang berhembus kencang dan hujan yang sangat lebat hampir di seluruh wilayah Jepang hingga dapat mencapai selama 2 hari!! Biasanya Typhoon menghantam daerah di pesisir Okinawa, Kyushu dan Shikoku.

Traveling saat Typhoon


Jepang memang berlokasi dalam area cekungan tropis yang mencangkup sistem tropis dan aktivitas badai tropis yang tergolong aktif setiap tahunnya. Meskipun begitu, daerah daerah disekitar bagian utara Jepang mendapatkan dampak yang lebih kecil dibandingkan daerah daerah di bagian selatan Jepang, dengan memilih menjalankan aktivitas pariwisata di bagian utara Jepang menjadi pilihan paling tepat saat musim Typhoon berlangsung.

Bulan Agustus merupakan salah satu fase badai tropis mulai memasuki awal masa aktifnya, akan tetapi dengan lebih memilih berkunjung ke bagian utara Jepang minna-san dapat terhindar dari dampak secara langsung musim Typhoon ini, tentu saja kekurangan nya adalah pada bulan Agustus sekaligus puncak dari musim panas di Jepang yang merupakan High season bagi aktivitas kepariwisataan dengan banyaknya digelar festival festival musim panas, keramaian di spot spot pariwisata dibagian utara Jepang tentu akan menjadi masalah tersendiri bagi minna-san.


Akan tetapi Typhoon seringkali dibarengi dengan cuaca yang sangat cerah sebelum kedatangannya, ini lah saat yang tepat bagi minna-san untuk menikmati berbagai macam kegiataan kepariwisataan pastikan selalu menonton ramalan cuaca karena pada periode musim Typhoon ini cuaca di Jepang tergolong tidak stabil atau berkunjung pada saat awal atau sekitar bulan Oktober adalah pilihan paling bijak ketika cuaca sudah mulai stabil dan cukup hangat sehingga sangat nyaman untuk kegiatan traveling.


Jepang memang selalu menawarkan pesona tersendiri pada setiap musim nya, tentunya tidak ada waktu atau periode yang buruk untuk mengunjungi Jepang. Semua tergantung pada destinasi, selera, serta pengalaman yang ingin minna-san rasakan pada saat berkunjung, Happy traveling Minna!! :) 

Site Reference:
accuweather

Author:
Hamyo 


Minna-san pernahkah kalian mendengar istilah Nisei? Istilah tersebut mungkin kebanyakan terdengar asing ditelinga kalian akan tetapi bagaimana jika saat minna-san menonton siaran berita mancanegara di televisi dan melihat seorang yang memiliki tampilan luar dengan wajah khas orang Jepang tetapi sangat lancar berbahasa inggris atau ketika menonton film layar lebar dan menemukan seorang aktor yang memiliki nama cukup aneh sebagai orang Jepang pada umumnya misalkan saja George Takei, jika diperhatikan nama tersebut merupakan campuran antara dua nama dari 2 negara yang berbeda sebut saja Amerika dan Jepang. Memang tidak menutup kemungkinan dia adalah seorang keturunan campuran antara Jepang dan Amerika akan tetapi ada kemungkinan yang lain yaitu dia adalah seorang “Nisei”.

Apa itu Nisei?


Nisei sebuah “generasi ke dua” sebutan ini berkembang pada era 1900-an hingga pecahnya perang dunia ke-2, saat itu para anak yang dilahirkan oleh imigran Jepang yang tinggal di Amerika Serikat mendapat sebutan ini. Banyaknya imigran Jepang yang menetap di beberapa daerah Amerika Serikat secara tidak langsung membuat komunitas masyarakat imigran Jepang berkembang dari sisi sebaliknya hal ini mulai menumbuhkan kekhawatiran dari para penduduk lokal Amerika Serikat.

Awal Mula dan Perkembangan Nisei


Pada tahun 1882 Amerika memutuskan untuk memberhentikan masuknya imigran dari China, akan tetapi beberapa Buruh Imigran untuk mengurus sektor perkebunan masih dibutuhkan. Jepang sedang terbelit masalah ekonomi pada periode tersebut dengan angka pengangguran dan tingginya Pajak membuat masyarakat Jepang mencari jalan lain untuk menyambung hidup. Peningkatan dan perluasan sektor agrikultur di Amerika Serikat membuka peluang bagi para pendatang dari luar Amerika termasuk Jepang sehingga menumbuhkan kesempatan serta ketertarikan bagi keluarga petani di Jepang untuk menetap di Amerika untuk beberapa waktu.


Ketika sampai di Amerika, para imigran Jepang merasakan hal yang sebaliknya dari harapan mereka. Kerasnya tekanan bekerja di perkebunan yang dimiliki oleh Amerika dan juga rendahnya gaji yang mereka terima memaksa mereka untuk mencari jalan lain agar bisa hidup di tanah asing tempat mereka berpijak tersebut. Para Imigran Jepang yang bekerja sebagai buruh tani mulai membeli lahan lahan kecil yang mereka garap sendiri dengan menanam buah buahan dan sayur, hasil panen tersebut kemudian mereka jual ke pasar pasar lokal. 


Untuk membantu menggarap lahan perkebunan tersebut para imigran Jepang ini meminta sanak saudara yang masih berada di kampung halaman mereka untuk datang ke Amerika atau melalui pernikahan dengan para imigran lainnya sehingga kemudian dapat memiliki keturunan (disinilah generasi ke-dua “Nisei” dimulai) dan menjadi sebuah keluarga.

Lambat laun komunitas masyarakat imigran Jepang mulai berkembang pesat di Amerika hingga pada tahun 1920 ada sekitar 110,010  Imigran Jepang yang tumbuh sebagai komunitas masyarakat di Caifornia dan Hawaii sehingga membuat para penduduk lokal kulit putih Amerika mulai merasa tidak nyaman dan khawatir akan kelompok minoritas yang terus tumbuh tersebut, mulai munculnya respon berbentuk diskriminasi dari penduduk lokal pun tidak dapat dihindari lagi.

Diskriminasi Nisei dan Periode Perang Dunia 2


Kekhawatiran akan pertumbuhan imigran Jepang di Amerika terus menerus menguat, bahkan timbul spekulasi bahwa pertumbuhan dan masuknya imigran Jepang ke Amerika merupakan sebuah tidndakan invasi secara halus yang disengaja oleh pemerintah Jepang, akhirnya pada tahun 1942 pihak imigrasi pemerintah Amerika mengambil kembali kebijakan untuk memberhentikan masuknya imigran Jepang ke Amerika. 

Hal ini berdampak buruk kepada komunitas masyarakat imigran Jepang yang telah menetap di Amerika, mereka seperti menjadi sebuah minoritas yang dipaksa untuk tidak dapat maju dan harus menjadi minoritas selamanya dibawah bayang bayang para mayoritas penduduk lokal Amerika belum lagi tampilan oriental mereka yang sangat mudah dikenali diantara masyarakat lokal membuat mereka menjadi terasingkan dari mayoritas lokal.

               "Pemilik toko keturunan Nisei memasang papan bertuliskan I am an American"

Diskriminasi ini pun semakin parah pasca penyerangan Pearl Harbor Hawaii oleh pasukan udara Jepang. Kebencian penduduk lokal Amerika Serikat dengan ras Nisei semakin menjadi jadi. Pemerintah Amerika Serikat yang saat itu dipimpin oleh Presiden Roosevelt mengeluarkan Executive Order yang dikenal dengan Presidential Executive Order 9066 untuk merelokasi para Nisei maupun penduduk Native Amerika yang memiliki darah keturunan Jepang.

              "Para anak anak Nisei yang menyatakan sumpah setia sebagai warga Amerika"

Baik tua maupun muda, miskin atau Kaya mereka semua diminta untuk meninggalkan sekolah, tempat kerja, toko dan lahan pertanian yang mereka garap jika dalam 10 hari mereka tidak pindah ke kamp konsentrasi maka pemaksaan akan dilakukan.  Pada maret 1942 10 kamp kamp konsentrasi sebagai tempat relokasi para Nisei dan imigran Jepang telah selesai dibangun dan berhasil menampung sekitar 110 ribu orang. 


Keputusan untuk merelokasi para masyarakat Imigran Jepang ke kamp kamp konsentrasi ini bertujuan untuk melindungi mereka dari para penduduk lokal Amerika yang memiliki paham Anti-Japan. Akan tetapi sebaliknya bagi para ras Nisei dan penduduk Amerika yang memiliki darah Keturunan Jepang Kamp kamp konsetrasi ini hanya menjadikan bentuk diskriminasi yang lain bagi mereka dan berujung pada pengasingan.

Pengabdian Pada Amerika


Meski mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan diskriminasi secara sepihak tidak sedikit generasi Nisei yang memiliki darah keturunan Jepang namun lahir sebagai Native Amerika mengabdikan dirinya pada Amerika, salah satunya adalah William Kenzo Nakamura yang namanya diabadikan menjadi nama gedung pemerintahan Federal di Seattle U.S. 

Tidak sedikit yang berperan dalam pergerakan militer Amerika Serikat salah satunya Unit Pasukan 442 yang berisi tentara Nisei dan para penduduk asli Amerika keturunan Jepang, unit ini mendapat penghargaan terbanyak dari pemerintah Amerika dengan 18.000 medali, dan pada Januari 2001 Minidoka yang merupakan nama salah satu kamp konsentrasi para Nisei dan Native Amerika-Jepang dijadikan sebagai monument Nasional oleh Presiden Clinton bahkan ada sebuah kutipan terkenal dari pidato Presiden William J. Clinton pada saat upacara penyerahan medali kehormatan yang berbunyi “Rarely has a nation been so well-served by a people it has so ill-treated”

Tokoh Tokoh Nisei yang terkenal

Berikut ini beberapa tokoh terkenal yang memiliki darah keturunan sebagai Nisei:
Alberto Fujimori, menjabat sebagai Presiden Peru pada tahun1990-2000
Tommy Kono, peraih medali Emas olimpiade tahun 1952 dan 1956 pada cabang angkat besi dan menjadi satu satunya atlit angkat besi di dunia yang berhasil menorah rekor berat beban pada 4 kategori berat beban yang berbeda.
Mike Masaoka, Pemimpin dari Japanese American Citizen League (JACL)
Wataru Misaka, Pemain NBA pertama yang memiliki darah keturunan Jepang pada tahun 1947
George Takei, Seorang Aktor yang terkenal dengan debutnya pada serial televise Star Trek
Minoru Yamasaki, Arsitek yang terkenal dengan desain karyanya menara kembar pencakar langit New York “The World Trade Center”
Wally Yonamine, Mantan Anggota club baseball terbaik di Jepang “Tokyo Giant” menjadi Nisei pertama yang bermain di liga baseball professional Jepang.  

Site Reference:
Farrit-Lili

Author:
Hamyo 


Boku balik lagi nih, dan mau sharing soal hidup di jepang. Susah kah? Enak kah? Mahal kah? Nah, semuanya tergantung apa pendapat kalian setelah membaca seri artikel ini.

Bagian pertama yang akan kita bahas hari ini adalah tatacara pengurusan legitimasi (ceileh) seorang WNA untuk mendarat di Jepang hingga menjadi warga Negara yang sah.

Pertama-tama, yang paling dibutuhkan saat akan pergi/pindah ke Jepang adalah Visa dan paspor. Hal ini pastinya berlaku pada semua Negara, kan?

Ada 2 jenis visa yang dikategorikan menurut jangka waktu tinggal orang yang bersangkutan di Jepang, yaitu ­short-term Visa (Visa jangka pendek) dan Long-term Visa (Visa jangka panjang). Short-term Visa berlaku untuk WNA yang tinggal dalam jangka waktu hingga kira – kira 6 bulan. Nah, bersangkutan dengan peraturan bahwa jangka waktu visa harus berkaitan dengan tujuan kunjungan ke Negara yang bersangkutan, maka haruslah jelas hubungan antara jangka waktu kunjungan dengan tujuan berkunjung. Tidak mungkin kan mengunjungi keluarga saja butuh 6 bulan? Jadi harus jelas korelasinya agar visanya lebih mudah diterima.

Pada Short-term visa, ada sekitar 60 negara yang memiliki “Repriprocal Visa Exemption Arrangement”, atau bahasa mudahnya persetujuan untuk dapat masuk Negara yang bersangkutan tanpa menggunakan visa. Penduduk Negara yang memiliki hak tersebut dapat tingal hingga 6 bulan di Jepang. Namun ada perbedaan jangka waktu tinggal maksimum di jepang pada tiap negaranya. Misal, penduduk jerman dapat tinggal selama 6 bulan di jepang, namun penduduk Brunei hanya dapat tinggal selama 14 hari. Enak kan? Namun sayangnya, Indonesia tidak menjadi bagian dalam persetujuan ini.

Untuk mendapatkan Long-term Visa dan izin bekerja di Jepang, kalian membutuhkan sebuah sertifikat yang bernama “Certificate of Eligibility”(zairyĆ«shikaku nintei shomeisho). Sertifikat ini bisa didapatkan di kantor imigrasi regional di Jepang. Proses aplikasi inipun bisa dilakukan oleh perantara seperti perusahaan calon tempat minna-san bekerja atau pengacara imigrasi, tanpa mengharuskan berada di Jepang/tempat yang bersangkutan. Segala keperluan dan dokumen berbeda beda untuk tiap kategori aplikasi Certificate of Eligibility, dan detail keperluannya tersedia di formulir tiap kategorinya. Formulir – formulir tersebut dapat diunduh di sini 


Pada kategori Long-term Visa, ada 5 kategori yang tersedia, yaitu Working, General, Specified, Diplomatic, dan Official Visa. Tiap kategorinya memiliki perbedaan teknis. Working Visa tersedia untuk orang yang bertujuan bekerja di jepang, misalnya: Dosen, Jurnalis, atau pada perusahaan tertentu. General Visa biasanya dipakai oleh Mahasiswa dan yang ingin tinggal bersama keluarga. Specified Visa adalah visa bagi seseorang yang berdarah jepang atau memiliki istri/suami yang tinggal permanen di jepang. Diplomatic Visa adalah visa bagi orang yang pergi ke Jepang dengan tujuan diplomatik, dan Official Visa biasanya untuk anggota administratif misi diplomatik.

Yep, sebagai warga negara asing di Jepang, kita pastinya butuh identifikasi sementara atau permanen di negara yang bersangkutan. Nah, kalo di jepang, ada yang namanya Alien Registration Card (gaikokujin touroku shoumeisho). Nah, disini kata Alien bukan berarti makhluk ekstraterestial dari planet mars, tapi penduduk asing. Namun, sejak 9 Juli 2012, kartu identifikasi tersebut telah diganti dengan Resident Card(zairyu kaad) untuk WNA yang tinggal di Jepang lebih dari 3 bulan.



Nah, begitulah langkah langkah awal untuk kalian mendarat di Jepang, dan sah menjadi warga negara jepang. Pada part selanjutnya, kita akan membahas soal tatacara dasar hidup di Jepang, mulai dari mencari tempat tinggal, makanan yang sesuai, dan bekerja, baik part-time maupun full-time.

Jika ingin bertanya, mention saja @okonomikatsu, dan tujukan pertanyaannya ke mimin #nebu yah, boku siap menjawab pertanyaannya lewat twitter.
Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Jaa, Minna-san!

Site Reference:
MOFA, 1 dan 2
JNTO

Author:
Kevin 


The White String, adalah sebuah short urband legend yang berasal dari Jepang tentang tindik telinga. Pada tahun 1980-an, urband legend ini sangat terkenal di Jepang bahkan menyebabkan banyak anak perempuan tidak berani untuk memakai tindik seperti anting anting dan aksesoris yang dipasang dibagian cuping telinga mereka.

Kisah tentang “The White String” ini berawal dari seorang anak yang sangat ingin menindik bagian cuping telinga nya dan memasang anting anting pada bagian tersebut. Akan tetapi kedua orang tuanya melarang hal tersebut karena mereka menganggap sang anak belum cukup umur untuk menanamkan aksesoris telinga tersebut untuk menjadi salah satu bagian dari tubuhnya. Sang anak tetap memaksakan kehendaknya, ia berkeras bahwa semua teman teman sekelasnya dan anak anak perempuan lain disekitarnya sudah memiliki aksesoris telinga tersebut. Akhirnya dengan berat hati kedua orang tuanya memberi izin kepada sang anak untuk menindik bagian cuping telinganya, sang anak pun diberikan uang untuk memasang aksesoris telinga tersebut di toko perhiasan terdekat.

Akan tetapi yang dilakukan sang anak adalah menyimpan uang tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri dan ia meminta pertolongan teman dekatnya untuk menindik bagian cuping telinganya secara gratis.  Sang teman pun menyutujui hal tersebut, kemudian ia menyalakan sebuah lilin untuk memanaskan jarum yang digunakan sebagai alat untuk melubangi bagian yang akan ditindik. Hal tersebut sedikit menyakitkan untuk sang anak yang baru pertama kali merasakan jarum tindik tersebut, pada akhirnya sang anak berhasil mendapat apa yang ia inginkan, sebuah anting anting di cuping telinganya.

Beberapa hari kemudian, ketika sang anak berada di sekolahnya ia merasakan rasa sakit pada bagian telinga tepat pada cuping yang telah ditanamkan anting anting beberapa hari yang lalu. Ia merasa sedikit gatal pada bagian cupingnya tersebut, ketika waktu istirahat tiba ia bergegas untuk menuju ke kamar mandi demi memeriksa hal tersebut. Ketika ia melihat ke arah cermin, bagian cuping yang ia pasang anting anting tersebut terlihat memerah. Dia mulai menggaruk bagian itu secara perlahan.

Ketika ia melihat lebih seksama pada bagian tersebut, ada sesuatu yang aneh muncul. Sesuatu berbentuk benang tipis berwarna putih terlihat sedikit menjuntai pada bagian tindikan nya, merasa penasaran dengan hal aneh tersebut ia pun mulai sedikit demi sedikit menariknya keluar dari bagian cupingnya yang membengkak dan semakin memerah. Setelah beberapa menit kemudian hal tersebut semakin menjadi hal yang aneh bahkan lebih aneh dan mulai membuat takut sang gadis, sesuatu yang berbentuk benang putih tersebut seperti tidak memiliki ujung dan mulai menjuntai sangat panjang di bagian cupingnya.

Sang anak mulai ketakutan dan dengan paniknya ia mengambil sebuah gunting dan memotong sesuatu yang berbentuk benang tersebut. Tiba tiba sekelilingnya menjadi gelap, dia tidak bisa melihat apapun yang ada disekitarnya.

Sang anak dibawa ke emergency room pada sebuah rumah sakit terdekat, sang dokter yang memeriksa keadaannya bertanya apa saja hal yang dia ingat. Sang anak menceritakan keanehan yang ia alami tersebut kepada sang dokter, kemudian ia pun terkejut dengan perkataan sang dokter.
Sang dokter berkata “Maaf, kau akan buta seumur hidup, sesuatu yang aneh tersebut bukanlah seutas benang putih akan tetapi itu adalah saraf penglihatan mu”

Site Reference:
PJ 


Seberapa jauh minna-san mengenal Jepang? setiap dari minna-san tentunya memiliki ketertarikan masing masing secara khusus entah itu dalam bentuk Kebudayaan tradisional atau kebudayaan modern pop culture seperti anime, manga, atau j-Music akan tetapi tidak ada salahnya mengenal lebih dalam tentang negri matahari terbit ini dan memperluas pandangan minna-san tentang Jepang.

Untuk mempermudah hal tersebut film dan video dokumenter tentu menjadi salah satu pilihan yang praktis terutama untuk minna-san yang tidak terlalu suka membaca buku tapi sekalipun minna-san lebih suka menghabiskan waktu dengan buku buku biografi dan sejarah tentang Jepang, tidak ada salahnya sejenak berpindah ke bentuk visual seperti video dan film dokumenter sehingga minna-san bisa mendapatkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.

Menonton video dan film yang memiliki genre dokumenter terkadang bisa sangat membosankan bagi sebagian orang, well…. tidak semua dari minna-san betah menonton dan mendengarkan ocehan suara dari seorang narator yang menjadi backsound selama dokumenter berlangsung. Akan tetapi beberapa dokumenter tentang Jepang berikut ini patut minna-san tonton, douzoo….

1.  A Life in Japan  


Jika minna-san bermimpi kelak ingin mengunjungi Jepang atau mungkin ingin menetap disana, film dokumenter yang satu ini patut minna-san tonton. Sebuah karya dari seorang sutradara film dokumenter asal Finlandia ini akan mengajak minna-san melihat kehidupan di Jepang dari pandangan para pendatang asing. Ada 20 pendatang asing pada film documenter ini yang akan mengajak minna-san mengintip keseharian mereka sebagai warga negara asing di Jepang.


Memiliki latar belakang yang berbeda beda dan juga alasan yang berbeda mengapa mereka datang ke Jepang mulai dari sudut pandang seorang mahasiswa asing dari china, photographer dari Kanada yang tidak ingin pulang kembali ke negaranya, hingga seorang dosen literature di Universitas Kyoto, mereka semua akan menyajikan 20 cerita yang berbeda tentang hidup di Jepang dari sudut pandang seorang pendatang.

2. Marked Death of Yakuza



Sebuah video dokumenter yang membahas lebih dalam tentang Yakuza langsung dari seorang narasumber yang merupakan mantan boss Yakuza Horizen akan membawa minna-san kepada fakta fakta mengejutkan dibalik kehidupan dan sejarah Yakuza di Jepang mulai dari bagaimana asal usul kelompok ini beridiri dan makna dibalik simbol simbol pada tato yang menghiasi badan mereka para anggota Yakuza.

3. Japan: A Story of Love and Hate



Dokumenter berdurasi 1 jam ini mengajak minna-san untuk melihat keseharian dari seorang Naoki. Pada masa mudanya dia memiliki kehidupan yang terbilang jauh di atas layak sebagai seorang karyawan kantoran, memiliki mobil, dan sebuah rumah mewah. Akan tetapi petaka terjadi ketika Jepang mengalami masa tersulit “economic bubble” dalam perekonomian mereka yang menyebabkan kemiskinan meningkat drastis pada saat itu, dampak tersebut pun berpengaruh besar pada kehidupan Naoki.

Naoki sempat kehilangan segalanya harta bahkan dia sempat bercerai beberapa kali dan hampir berakhir sebagai seorang tuna wisma di Jalanan. Dalam dokumenter karya Sean Mc.Allister dari BBC ini menggambarkan secara langsung kisah perjuangan seorang Naoki pada kesehariannya untuk membangun kembali hidupnya, mulai dari bekerja part time sebagai pengantar surat. Seperti judulnya Love and Hate minna-san akan mendapatkan sebuah pengalaman inspirational dari pahit manisnya kisah hidup Naoki yang berjuang kembali untuk mencapai kehidupan seperti pada masa lalunya.   

4. Jiro Dreams of Sushi


Film Dokumenter karya David Gelb ini dirilis pada tahun 2011 yang menceritakan sebuah kisah tentang Jiro Ono, salah seorang Master Sushi terbaik di Jepang bahkan sebagian berpendapat bahwa beliau terbaik di dunia yang menjadi pemilik sebuah kedai Sushi Sukiyabashi Jiro dan mendapat penghargaan “Three stars rating” dari Michelin, apa arti penghargaan itu? jika sebuah restoran mendapat penghargaan "Three stars rating" dapat dikatakan tidak berlebihan mengunjungi sebuah negara hanya untuk mencicipi hidangan di restoran tersebut. Bersama dengan beberapa pegawai dan anak tertuanya bernama Yoshizaku, Jiro Ono menghidangkan sushi terbaik di atas piring setiap pelanggannya.



Pada film documenter berdurasi sekitar 80 menit ini minna-san akan mendapatkan banyak pelajaran berharga dari sosok Jiro Ono mulai dari ideologi, prinsip prinsip hidup yang ia pegang teguh, kecintaan serta passion nya pada setiap irisan sushi yang ia hidangkan. Pandangan minna-san tentang sushi akan menjadi berbeda dan lebih luas setelah menonton film dokumenter ini.


Bagaimana minna-san, sudah menyiapkan cemilan untuk menemani selama menonton film fim documenter ini? Selamat menonton, douzoo……

Site Reference:
Imdb

Author:
Hamyo 


Salah satu alasan paling masuk akal untuk mengunjungi Jepang pada saat musim panas adalah Summer Matsuri. Keunikan festival atau matsuri musim panas yang menawarkan pengalaman khas bagi setiap orang yang ambil bagian dalam perhelatannya sanggup membuat seseorang rela berhadapan dengan banyaknya serangga mengerikan yang berkeliaran saat musim panas dan tentu juga rela menantang teriknya matahari musim panas. Mungkin saja minna-san adalah salah satunya, jika berencana mengunjungi Jepang pada saat musim panas pastikan minna-san tidak melewati 5 summer matsuri ini, douzoo….

1. Nebuta Matsuri

Tanggal Perayaan, 2 sampai 7 Agustus
Tempat Perayaan, Aomori-shi - Aomori   
Tel: 017-723-7211 (Aomori Tourist and Convention Center)

Banyak teori tentang awal mula dari alasan matsuri ini digelar salah satunya adalah dari kisah tentang penumpasan para golongan pemberontak di distrik Aomori oleh Jendral Tamuramaro di awal tahun 800 masehi. Kisah tersebut menyatakan Jendral Tamuramaro memerintahkan pasukannya untuk membuat makhluk berbentuk raksasa yang disebut sebagai “Nebuta” sebagai senjata untuk menakut nakuti para pemberontak.

Cerita lainnya menyatakan awal mula Nebuta matsuri berawal dari Tanabata festival di negara China. Salah satu kebiasaan para masyarakat yang menggelar festival ini adalah menghanyutkan sebuah kotak lampion ke laut yang didalamnya dinyalakan sebuah lilin untuk mengusir arwah jahat siluman pasir yang datang pada saat musim panas. Hingga saat ini para warga Aomori masih menggunakan kebiasaan membuat lampion ini disetiap perayaan Nebuta Matsuri dengan beragam bentuk dan desain yang berbentuk seperti makhluk raksasa. Dengan diterangi cahaya warna warni lampion raksasa yang tingginya mencapai hingga 5 meter ini, para warga Aomori berkumpul dan berdansa seraya dengan alunan gendang dan seruling, Minna-san patut mencoba menjadi bagian dari mereka di festival ini. :)

2. Chagu Chagu Umakko


Tangal Perayaan, Hari sabtu pada minggu ke dua di bulan Juni
Tempat Perayaan, Onikoshi Soozen Jinja, Takizawa Mura, Iwate-gun, Iwate
Tel: 019-684-2111 (Commerce, Industry and Sightseeing Section of Takizawa Village)

Chagu chagu merupakan sebuah onomatopoeia atau perumpamaan dari bunyi dentingan lonceng. Pada festival ini sekitar 100 kuda akan dihiasi dengan kain tradisional berwarna warni yang memiliki banyak lonceng di setiap sisinya. Kuda kuda ini akan digiring dengan menempuh jarak 15 km dari desa Takizawa menuju ke kota Morioka. Gemuruh irama dentingan suara lonceng yang dikeluarkan oleh 100 kuda ini lah yang menjadi awal  nama “Chagu chagu” pada festival ini.

Perayaan ini digelar sekitar 200 tahun yang lalu sebagai tanda terimakasih masyarakat di prefektur Iwate kepada para kuda yang telah bekerja keras dalam membantu mempermudah kegiatan pertanian padi. Pertanian padi bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah bukan hanya untuk seorang manusia tapi juga untuk hewan, masyarakat Iwate terkenal dengan budi daya kuda dan pemanfaatannya untuk mempermudah kegiatan mereka sehari hari salah satunya dalam kegiatan pertanian padi. Masyarakat Iwate hidup harmonis berdampingan dengan para kuda di kehidupan sehari hari mereka, festival ini pun menjadi bukti salah satu bentuk rasa terimakasih dan apresiasi mereka kepada para kuda yang telah mempermudah tugas mereka di kehidupan sehari hari.

3. Akita Kanto Matsuri


Tanggal Perayaan, 3 sampai 6 Agustus (dimulai pukul 7 malam)
Tempat Perayaan, Akita-shi, Akita
Tel: 018-866-2112 (Executive Committee of Akita Kanto Matsuri)

Perayaan ini merupakan salah satu perayaan terbesar di Tohoku Region (meliputi: Fukushima, Miyagi, Iwate, Aomori, Yamagata, dan Akita). Awal mula festival ini berasal dari ritual Tanabata, yang digelar pada malam 7 juli, periode ini disebut sebagai Neburi-Nagashi untuk menghalau segala jenis energi jahat yang membawa petaka dan penyakit. Kata “Kanto” pada nama festival ini sendiri merupakan sebuah tiang bambu setinggi 8 meter dengan beberapa palang bambu yang saling bersilangan menjadi tempat menggantungkan 46 lampion seakan akan membentuk setangkai padi. Kanto ini bertujuan untuk mengusir iblis, Kanto yang memiliki berat 60 kg dinamakan o-waka dan bentuk yang lebih kecil dinamakan chu-waka, ko-waka, dan yo-waka.

Pada festival ini para pemuda akan berkumpul dengan kostum festival tradisional, mengenakan Hachimaki Headband, dan kaos kaki tabi berwarna putih dengan sandal jerami Zori sebagai alas kaki mereka, hentakan kaki mereka beriringan menjalin harmoni dari alunan suara drum dan seruling yang dimainkan. Mereka pun berkeliling di sekitar Kota sambil membawa Kanto tadi dengan berusaha menjaga agar lilin lilin di dalam setiap lampion yang digantungkan pada Kanto tidak padam.    

4. Yamagata Hanagasa Matsuri


Tanggal Perayaan, dimulai dari 5 Agustus
Tempat Perayaan, Dari Tokamachi hingga Nanokamachi Yamagata-shi
Tel: 023-642-8753 (Yamagata Hanagasa Festival Committee)

Meskipun terbilang baru, festival ini merupakan salah satu festival terbesar di Tohoku region sama seperti Akita Kanto Matsuri. Digelar sebagai festival secara resmi pada tahun 1964, hingga kini Yamagata Hanagasa Matsuri menjadi salah satu festival musim panas terbesar yang setiap tahunnya dihadiri sekitar 1 juta penonton!!

Hanagasa merupakan topi yang dihiasi dengan motif dekorasi bunga yang cantik. Sebanyak sepuluh ribu penari berpartisipasi setiap tahunnya pada festival ini dan mereka di pecah menjadi 100 grup dengan satu grup penari berisi sejumlah penari dengan warna baju dan Hanagasa yang sama. Parade pun dimulai dengan menyusuri jalanan utama di kota Yamagata, para penari ini menyajikan tarian yang atraktif dengan menggunakan Hanagasa yang mereka kenakan dan salah satu ciri khas dari festival ini adalah ketika para penari serentak menyuarakan “Yassho,Makkasho” beriringan dengan tabuhan drum Hanagasa-daiko  akan menyajikan pengalaman yang tak terlupakan untuk minna-san ketika berada disana.

5. Narita Gion Matsuri


Tanggal Perayaan, 9 sampai 11 Juli
Tempat Perayaan, Naritasan Shinshoji di Chiba
Tel: 0476-24-3232

Parade Omikoshi dari Kuil Naritasan Shinshoji akan digiring dengan parade besar disekitar jalan omotesando. Tidak hanya parade akan tetapi beberapa kompetisi musikal tradisional juga digelar bersama dengan meriahnya parade Omikoshi yang dihadiri lebih dari 400 ribu pengunjung setiap tahunnya.

Festival ini juga merupakan sebuah perayaan penyambutan sebagai pertanda bahwa musim panas telah tiba. Para warga benar benar seperti tidak beristirahat sedikitpun karena meriahnya perayaan ini, diawali dengan parade omikoshi di hari pertama, hingga akhirnya “Sobiki” di hari ketiga sebagai penutup dari kemeriahan festival ini. Festival ini sebagai simbol penghormatan dari warga kepada Dainichi-Nyorai (Dainichi Buddha)

Musim panas di Jepang adalah salah satu periode paling tepat untuk berkunjung apalagi jika minna-san merupakan seorang penggila festival, berburu festival tradisional seperti matsuri lokal tersebar di setiap daerah yang berbeda beda diseluruh Jepang. 5 matsuri tadi hanya sebagai contoh, apakah minna-san pernah menghadiri matsuri di atas atau ada matsuri yang tidak kalah menarik selain dari daftar di atas? Silahkan share di kolom komentar ya minna-san, douzoo…..    

Site Reference:
Hamyo 


Tidak bisa dipungkiri bahwa Jepang adalah salah satu negara paling maju di Asia dan merupakan negara dengan pertumbuhan Ekonomi terbesar ke 3 di dunia, dengan beraneka ragam daya tarik yang mampu membuat semua orang bermimpi untuk kelak mengunjungi Negri matahari terbit ini bahkan ingin tinggal dan menghabiskan seumur hidupnya disana. Ada banyak daya tarik dari negara ini mulai dari Surga bagi para penggemar subculture seperti Anime, Musik, Manga, teknologi dan masih banyak lagi sampai pada daya tarik pariwisatanya.

Terkadang  semua hal yang berhubungan dengan daya tarik tersebut membuat banyak  mata silau akan pancaran dari keindahan dan hal hal yang menyenangkan dari Negri matahari terbit ini dan terkadang membuat banyak dari kita buta untuk melihat sisi lain dari si “Matahari terbit”. Pernahkan minna-san bertanya, apakah Jepang hanya dipenuhi oleh hal hal menyenangkan saja? Apa Jepang hanya sebatas anime dan manga? Apakah si “matahari terbit” ini tidak memiliki sisi gelap? 

Setiap negara tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, tanpa terkecuali dengan Jepang. Terlepas dari semua daya tarik dan keindahan yang dimilikinya, Jepang pun juga memiliki banyak masalah yang harus dihadapi seperti halnya negara negara lainnya salah satunya dibidang ekonomi. Sekali lagi timbul pertanyaan “Apakah di Jepang ada yang namanya kemiskinan?” jawabannya, tentu saja ada!! Hal ini lah yang terkadang luput dari pandangan banyak orang, sebuah “sisi lain” yang tersembunyi dari negri “matahari terbit”.

Seperti negara negara lainnya, Jepang pun memiliki masalah dengan kemiskinan. Sampai saat ini pun pemerintah Jepang belum menemukan cara yang tepat untuk menanggulanginya, terlepas dari krisis ekonomi hampir satu dekade yang lalu tepatnya pada tahun 1990 yang dijuluki dengan fenomena “economic bubble” Jepang menghadapi era yang sulit dalam perekonomian mereka. 

Ratusan Perusahaan harus menanggung kerugian, ribuan kariawan kehilangan pekerjaan mereka, dan tingkat kemiskinan di Jepang pun meningkat drastis. Hingga saat ini dampak kemiskinan di Jepang masih ada, hanya saja tidak terlihat dan tampak secara jelas. Golongan tuna wisma menjadi “invisible people” orang orang yang keberadaannya tidak terlihat ada di tengah tengah masyarakat Jepang, akan tetapi mereka ada dan mereka nyata!! Mereka hidup sebagai bayang bayang dari gemerlapnya negri matahari terbit ini.

Definisi golongan tuna wisma di Jepang sebenarnya sama seperti halnya golongan tuna wisma di negara negara lain, mereka yang tidak memiliki rumah dan pekerjaan sebagai penopang hidup mereka. Akan tetapi ada hal yang membedakan mereka tuna wisma di Jepang dengan kebanyakan tuna wisma di negara negara lain.

Salah satunya yaitu penyebab mereka menjadi seorang tuna wisma di Jepang karena “mereka sendiri yang memilih menjadi tuna wisma”. Memang terdengar cukup aneh, kebanyakan dari mereka sebelumnya adalah karyawan kantor atau pabrik yang memiliki pekerjaan tetap, memiliki rumah dan masih memiliki sanak saudara. Pada umumnya rata rata para pekerja pabrik atau beberapa perusahaan menyediakan tempat tinggal atau semacam asrama untuk para karyawan mereka, ketika seorang karyawan mengalami pemecatan maka otomatis mereka tidak hanya kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilannya akan tetapi juga tempat tinggal mereka.

Mereka bisa saja memilih untuk kembali ke keluarga atau sanak saudara mereka di rumah, tapi bagi orang Jepang hal itu sangatlah memalukan. Pekerjaan bukanlah sekedar sumber pemasukan bagi mereka tapi lebih dari itu pekerjaan merupakan sebuah identitas diri, “di Jepang ketika seseorang kehilangan pekerjaannya, mereka akan sangat malu untuk kembali ke rumah, maka mereka lebih memilih menjadi tuna wisma dari pada memberitahu keluarganya”.

 "Itu bukanlah kotak bekas terbengakalai, tapi tempat seorang tuna wisma tidur di dalamnya" 

Lalu kenapa keberadaan para tuna wisma di Jepang seperti tidak ada sama sekali? Memang pola kehidupan seorang tuna wisma di Jepang cukup rumit, mereka ada tapi mereka berusaha untuk menghindar dari kehidupan masyarakat Jepang sehari hari. Bahkan cukup sulit untuk mendapatkan statistik dari jumlah angka tuna wisma yang hidup di Jepang secara detail, sebuah survey dari pekerja amal kristiani di Jepang mengatakan ada lebih dari 1000 tuna wisma yang hidup di Nagoya dari 2,2 juta total jumlah penduduk Nagoya dan ada sekitar 4000 tuna wisma yang hidup di bayang bayang gemerlapnya kota Tokyo yang memiliki sekitar 12 juta penduduk.


Kebanyakan tuna wisma di Jepang hidup secara berkelompok tapi tidak sedikit pula yang hidup secara individu. Kebanyakan tempat mereka tinggal tidaklah menetap karena mereka tidak ingin keberadaannya dilihat oleh orang banyak, pada malam hari mereka akan membangun sebuah tempat tinggal sederhana yang terbuat dari kotak kardus atau hanya dengan menggunakan selimut lusuh untuk bertahan dari dinginnya malam di sudut sudut jalan, di taman taman tengah kota, di sebuah anak tangga, bahkan di kursi taman. Pada siang hari ketika para masyarakat mulai memenuhi ruang ruang public, keberadaan mereka seperti menghilang begitu saja. Mereka yang tadi berada di sudut sudut ruang publik menepi ke tempat tempat yang tak terlalu tersentuh oleh orang banyak, mereka tidak ingin keberadaan mereka di ketahui dan terlihat oleh orang banyak.


Terkadang mereka muncul di tengah tengah kesibukan  dan rutinitas di ruang ruang publik untuk sekedar mencari hal hal yang bisa mereka makan, mulai dari merogoh tong sampah dan sebagainya. Bagaimana dengan para petugas keamanan seperti polisi? Tentu saja pihak yang berwajib menyadari keberadaan mereka akan tetapi ada sebuah aturan tertulis untuk perlindungan para tuna wisma di Jepang. 

                "Seorang tuna wisma yang beristirahat di samping gerbang utama Asakusa"

“Mereka tidak mengusik, maka kita pun juga tidak  ber hak mengusik mereka” publik mencoba untuk memberi ruang bagi mereka dengan cara seperti itu. Para tuna wisma di Jepang tidak lah mengemis, bahkan banyak dari mereka yang tidak segan segan menolak ketika diberikan bantuan secara Cuma cuma.

Cukup sulit memang , bahkan kebanyakan para petugas amal dari organisasi tertentu sekalipun yang mencoba memberikan bantuan berupa sekotak nasi mereka tolak. Mereka memang seorang tuna wisma tapi mereka tetaplah “orang Jepang” yang memegang teguh sebuah ideologi dan kebanggaan dalam diri mereka, pemerintah Jepang sendiri berusaha memberikan bantuan berupa  memberikan lahan lahan kosong kepada kelompok tuna wisma untuk mereka manfaatkan secara mandiri sebagai lahan bercocok tanam, dari sinilah mereka menyambung hidup.

Jika minna-san pernah ke Jepang, apakah minna-san pernah melihat secara langsung para tuna wisma diruang ruang publik? Bagaimana respon minna-san? Dan bagaimana tanggapan orang orang disekitar mereka? Silahkan share pengalaman minna-san di kolom komentar ya, douzoo…..


Site Reference: 

Author:
PJ