Diberdayakan oleh Blogger.



Siapa sih yang nggak kenal Vocaloid? Minna-san pasti tahu "idola" Jepang yang satu ini. Mereka bisa disebut robot, hologram, Diva Virtual dan sebagainya yang bisa bernyanyi dan menari. Nah, band yang kami mau bahas kali ini adalah 和楽器バンド atau "Wagakki Band". Band yang satu ini unik banget, soalnya mereka nggak cuma pake alat musik yang mengarah ke modern, seperti gitar atau drum, tapi juga pake alat musik tradisional Jepang! Nah, pasti minna-san penasaran mengenai hubungan band ini dengan Vocaloid kan? Wagakki Band membuat cover lagu-lagu Vocaloid dengan gaya mereka sendiri! Keren ya!
 
Biodata Member
 
 
 
1. Suzuhana Yuuko (Vokalis)
 
    Tanggal Lahir: 7 Juni
    Asal: Ibaraki
    Golongan Darah: AB
    Alat Musik: Piano
    Official Website: http://yukonouta.jp/
    Twitter: @yuchinsound
  
2. Ibukuro Kiyoshi (Koto)
 
    Tanggal Lahir: 1 Desember
    Asal: Tokyo
    Alat Musik: Koto
    Official Website: http://www.kiyoshi-ibukuro.com/
    Twitter: @bsmpl

 
3. Kaminaga Daisuke (Shakuhachi)
 
    Alat Musik: Shakuhachi
    Official Website: http://www.daisukekaminaga.com/
    Twitter: @daisukekaminaga

 
4. Ninagawa Beni (Tsugaru Jamisen)
 
    Tanggal Lahir: 25 Desember
    Asal: Kyoto
    Golongan Darah: A
    Alat Musik: Tsugaru Jamisen
    Twitter: @benina1225

 
5. Kurona (Wadaiko)
    Alat Musik: Wadaiko
    Official Website: http://www.crowclass.jp/
    Twitter: @967crowclass

 
6. Machiya (Gitar)
 
    Nama Asli: Shin Oumura
    Tanggal Lahir: 13 September
    Asal: Hokkaido
    Golongan Darah: O
    Alat Musik: Gitar
    Official Website: http://www.shin-oumura.com/
    Twitter: @shin_machiya

 
7. Asa (Bass)


    Alat Musik: Bass/Gitar
    Twitter: @bass_asa

 
8. Wasabi (Drum)
 
    Asal: Cina
    Alat Musik: Drum
    Twitter: @wasabist
 
Minna-san tahu semua alat musik ini?  gitar, bass dan drum pasti kenal ya... Nah coba kami jelaskan mengenai alat musik tradisional Jepang yang digunakan oleh beberapa member Wagakki. Koto adalah alat musik petik yang panjang. Saking panjang dan beratnya, alat musik ini nggak pernah dibawa-bawa! Mainnya diletakkan di atas lantai. Shakuhachi itu alat musik tiup Jepang (gampangnya sih suling Jepang) Suaranya mirip yang ada di main theme dan background musik di anime Naruto. Tsugaru Jamisen itu sejenis Shamisen, Shamisen adalah alat musik petik (bisa dibilang Banjo Jepang). Shamisen sering dipakai Geisha untuk menghibur para tamu. Wadaiko itu gendang Jepang, Minna-san pasti pernah dengar di festival-festival Jepang yang ada di Indonesia.

Discography

1. Vocalo Zanmai
     Type: Album
      Rilis: 23, April 2014
 
 
2. Hanabi

Type: Single
Rilis: 8, Agustus 2014
 
Minna-san pasti penasaran pengen lihat band ini kan? Kita mulai dengan lagu yang pasti dikenal semua orang, yaitu "Senbonzakura"! Ayo lihat video dibawah ini!

 
Gimana minna-sa, Keren banget kan? Ayo support mereka! Ini official webpage-nya Wagakki Band:
 
 
     Author:
Mochi




Minna-san selamat tahun baru 2015!! Akemashite Omedetto!! Kemarin bertepatan dengan hari pertama di tahun baru 2015 ini, mimin-san memutuskan untuk melakukan tradisi Hatsumode untuk kali pertama di Jepang. Hatsumode merupakan salah satu dari berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat Jepang dalam merayakan hingar bingar tahun baru, Hatsumode sendiri merupakan ritual tahunan masyarakat Jepang pada hari hari pertama di awal tahun baru untuk mengunjungi tempat tempat suci khususnya kuil shinto akan tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang justru mengunjungi kuil buddha, Mayoritas masyarakat Jepang biasanya mendapatkan libur atau mungkin akan meliburkan diri pada awal bulan januari setiap tahunnya khususnya di tanggal 1 Januari sampai 3 Januari untuk melakukan berbagai macam tradisi dalam menyambut awal tahun dan Hatsumode adalah salah satu diantaranya.

kuil kuil di seluruh Jepang akan dibanjiri pengunjung terutama Kuil Kuil terkenal di pusat kota Kyoto dan Tokyo hingga kesunyian di tiap kuil terpecah oleh hingar bingar kerumunan pengunjung yang membanjiri wilayah sekitar kuil untuk mengantri memanjatkan doa awal tahun. Tujuan dari Hatsumode sendiri adalah untuk memanjatkan doa agar diberi kelancaran di tahun yang baru ini, mereka yang berkunjung akan membawa omamori (jimat keberuntungan) yang dibeli pada saat melakukan Hatsumode di tahun yang lalu akan dikembalikan ke kuil untuk dibakar dan digantikan dengan omamori yang baru.

Mimin-san memutuskan untuk melakukan Hatsumode pertama mimin-san dengan mengunjungi salah satu kuil yang cukup terkenal di Pulau Kyushu yaitu Kuil Usa Hachiman-gu. Usa Hachiman-gu dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Emperor Ojin yang dikenal sebagai Dewa perang dan kekuatan Militer, dipuja secara luas terutama oleh masyarakat di Pulau Kyushu. Mereka percaya kemunculan Emperor Ojin di kuil ini diperkirakan pada awal abad ke 8 dan disembah sebagai Dewa pelindung Ibukota kekaisaran Jepang pada saat itu. Hingga saat ini Kuil Usa Hachiman-gu mendapat perhatian khusus serta perlindungan langsung dari Keluarga Kekaisaran Jepang.


Setibanya di stasiun Usa, hal yang paling tidak disangka menyambut kedatangan mimin-san. Jutaan butiran salju mulai berjatuhan dari langit kota Usa dan perlahan menyelimuti kota kecil ini dengan lapisan selimut salju putih tebal yang dengan telitinya menutupi setiap badan Jalan tanpa sedikitpun menyisakan sudut sudut kecil di peron stasiun Usa yang mungil. Rombongan penumpang kereta telah memadati ruang tunggu stasiun berusaha menghindar dari dinginnya sengatan suhu minus kota Usa. Bermacam cara dilakukan, salah satu penumpang di sudut ruang tunggu tak hentinya berulang kali menggosokan kedua telapak tangannya, beberapa kali terdengar dentingan kaleng yang jatuh dari balik kaca mesin minuman, memang kopi hangat kalengan menjadi pilihan utama di genggaman para penumpang pada saat seperti ini, namun akan bertahan berapa lama satu dua teguk kehangatan untuk menutupi raut muka yang perlahan mulai lelah terperangkap di dalam ruang tunggu stasiun yang sendirinya mulai kehilangan kehangatan oleh dinginnya sunyi senyap keramaian penumpang yang tak berucap sapa satu sama lain. Janggal memang, tapi keramahan negri sakura tak terlalu akrab mengenal budaya basa basi nusantara, sebisanya tidak mencampuri urusan orang lain dan menghormati ruang semu pribadi ditengah tengah keramaian yang belum mengenal satu sama lain sering kali berakhir menghasilkan sunyi.

Suhu minus kota Usa pagi itu memang belum cukup dingin untuk membekukan waktu, beberapa saat terperangkap di dalam ruang tunggu stasiun akhirnya usai juga saat bus dengan tujuan kuil Usa terparkir di depan pintu keluar stasiun, para penumpang di ruang tunggu satu persatu meninggalkan tempat duduknya masing masing untuk kemudian bergegas beranjak menuju pintu keluar stasiun. Tepat satu langkah di bagian luar stasiun, udara dingin menyengat kuat memaksa masuk ke dalam paru paru hingga mengeluarkan kepulan asap tiap kali nafas berhembus yang membuat bernafas pun terasa lebih berat dari biasanya. Perlahan mimin-san beranjak melangkah menuju ke parkiran, satu persatu butiran salju mulai bertebaran disekujur jaket hangat yang mimin-san kenakan, jalanan yang tertimbun salju tebal diatasnya menyisakan bagian dalam yang licin seakan tidak mengizinkan mereka yang ingin bergegas masuk ke dalam bus mempercepat langkahnya. Kerumunan penumpang ruang tunggu kereta berpindah ke dalam bus, begitupun sunyi yang tadi ada. Selang beberapa saat menunggu, bunyi riuh dari suara mesin bus tiba tiba memecah kesunyian sebagai pertanda tiap tiap bangku di dalam bus telah terduduki dan sang sopir bus memulai kembali rutinitas mulianya untuk kali pertama di tahun yang baru ini. Bus pun mulai bergerak lambat menyusuri licinnya badan jalan, perlahan mulai kasat mata di sisi kiri dan kanan luar jendela bus yang berembun, terbaring sosok kota Usa yang mulai tertidur pulas diselimuti hamparan salju.


Derasnya hujan salju dan suhu minus yang menyengat hingga ke tulang mungkin menjadi salah satu hal yang tidak mimin-san harapkan terjadi pada awalnya saat pertama kali beranjak keluar dari gerbong kereta di stasiun Usa, akan tetapi selalu ada sisi lain yang berbeda dari satu koin yang sama. Hal yang paling tidak diharapkan tadinya menjadi hal yang paling disyukuri dalam sekejap ketika melihat gerbang utama Kuil Usa, warna oranye tua dari dua tiang yang berdiri dengan kokohnya diselimuti oleh putihnya hamparan salju yang masih enggan berhenti berjatuhan tepat dari atas langit kuil Usa membuat keindahan yang tidak hanya bisa terlihat oleh mata, tapi juga atmosphere spiritual yang hanya bisa dirasa.

 
Terpesona oleh keindahan tersebut mimin-san bersama beberapa teman yang ikut berkunjung larut untuk mengabadikan setiap momen di depan gerbang utama Kuil dengan kamera yang tentunya kami sadari tidak akan pernah bisa melihat sepenuhnya keindahan yang terlihat di depan mata kami. Obsesi untuk menangkap momen tersebut terhenti pada saat ponsel yang mimin-san gunakan tak sengaja terlepas dari genggaman dan terhempas ke timbunan salju, retakan di permukaan layar ponsel pun tak terselamatkan oleh lapisan salju yang tadinya mimin-san kira akan menjadi penyelamat. Mungkin saja roh sang emperor mencoba menegur kami yang mulai melupakan tujuan awal menginjakkan kaki di tempat persemayamannya ini, kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan.
 
Tidak lama menjauh beberapa dari gerbang utama kuil, pemandangan wilayah di sekitar kuil Usa yang tertutup salju berkali kali membuat mimin-san cepat cepat merogoh kedalam saku dan menggenggam ponsel untuk mengabadikan setiap momen seakan sanggup membuat mimin-san hampir melupakan peringatan yang belum lama kami dapat dari roh sang emperor tepat di depan gerbang utama tadi.
 
 
 
 
Wilayah kuil Usa hachimangu membentang cukup luas hingga memakan waktu untuk berjalan kaki dari gerbang utama demi mencapai bagian dalam wilayah Kuil sebelum mencapai bagian utama dari kuil Usa Hachimangu terlebih ketika pemandangan disekitar kuil yang terpoles sangat cantik oleh salju musim dingin. Memandangi aliran sungai yang perlahan membeku dari atas pinggiran Jembatan oranye yang menghubungkan bagian wilayah luar kuil ke bagian tengah wilayah kuil akan memakan waktu yang lebih lama lagi tentunya.
 


 
Saat berada di bagian tengah wilayah kuil, ornamen ornamen unik khas kuil mulai terlihat, seperti susunan gentong gentong besar penyimpan sake, satu papan besar berbentuk persegi panjang yang dihiasi oleh potongan potongan plakat kayu yang bertuliskan kanji, dan tiang tiang lampion berwarna oranye yang terletak di beberapa sudut sanggup menekankan suasana sakral di sekitar wilayah bagian tengah kuil. Kerumunan pengunjung kuil pun mulai banyak mimin-san temui, baik mereka yang mengarah masuk ke bagian dalam maupun mereka yang mengarah keluar kuil berhenti sejenak menikmati suasana spiritual di wilayah bagian tengah kuil. Tidak sedikit pula dari mereka para pengunjung yang mengarah keluar kuil membawa ornamen berupa busur dan anak panah yang dikemas dengan rapi menggunakan plastik transparan, mungkin semacam souvenir atau amulet sebagai perlambangan khas dari Kuil Usa Hachimangu mengingat sang Dewa Perang bersemayam di wilayah kuil ini. Keindahan kombinasi antara putih salju dan warna oranye khas yang dimiliki bangunan bangunan kuil tetap tidak berhenti membuat mimin-san takjub.
 




 
Salju yang enggan berhenti berjatuhan dan mulai menumpuk membuat suhu di sekitar Usa turun drastis hingga mencapai -9 derajat celcius, sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi mengingat Usa yang berlokasi di Pulau Kyushu yang merupakan salah satu daerah bagian selatan Jepang. Suhu dingin yang mulai menusuk lebih tajam membuat jari jari kaki membeku dan mulai sulit untuk digerakkan seakan tubuh mulai memberikan pertanda untuk mulai menyerah dan rasionalitas yang ditawarkan oleh otak mulai membesitkan sedikit niat untuk mengakhiri perjalanan dan mencari tempat berteduh mengingat perjalanan menuju bagian utama wilayah terdalam kuil harus melewati anak tangga yang membutuhkan paling tidak jari jari normal yang bisa digerakkan untuk menopang setiap langkah bukan jari jari yang sudah mulai membeku dan menyebabkan rasa nyeri yang menyakitkan ketika dipaksa untuk digerakkan. Ketika pilihan untuk mengakhiri perjalanan mulai dibisikkan lebih kencang oleh akal sehat, hati yang ling lung mulai gelisah mencari pembenaran untuk menolak tawaran dari akal sehat. Sejenak menunggu sambil merintih menahan nyeri di sekujur ujung jari jari kaki yang mulai menjalar ke bagian telapak kaki, satu momen pembenaran untuk dijadikan alasan meneruskan perjalanan pun akhirnya terjadi di depan mata saat seorang kakek tua renta yang bungkuk tertatih tatih menaiki anak tangga, dengan nafas yang berat ia tertatih tatih meniti satu per satu anak tangga dibantu oleh satu tongkat ditangan kirinya perlahan ia menuju bagian utama kuil. Akal sehatpun kalah oleh hati yang telah berhasil mencari pembenaran. Sambil menahan nyeri yang terus menjalar ke sekujur kaki yang berpijak pada salah satu anak tangga pertama yang mengarah ke bagian utama kuil, perjalanan pun dilanjutkan.
 

 
Nyeri disekujur kaki mimin-san terbayar lunas saat mimin-san menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir, tepat di depan mimin-san terlihat bagian utama kuil Usa. Kerumunan antrian para pengunjung yang berbondong bondong bergantian untuk berdoa di depan kuil, gemericik koin yang dilempar sebagai persembahan dari para pengunjung yang memulai doa awal tahun mereka, para pendeta wanita yang dengan anggun melayani setiap pengunjung yang datang tetap terlihat nyaman dengan pakaian khas berwarna putihnya tanpa ada satupun dari mereka yang memakai mantel hangat untuk bersembunyi dari sengatan suhu dingin yang makin parah.
 

 

 
Setelah memanjatkan doa akhir tahun kepada sang Dewa Perang, hal yang tidak boleh terlupa adalah membeli omamori yang baru dan menyerahkan omamori tahun lalu, tidak lupa pula untuk mencoba Omikuji sebagai gambaran keberuntungan sepanjang tahun yang baru ini. Beberapa dari pengunjung sepertinya mendapat gambaran nasib buruk, dengan mengikat omikuji yang berisi nasib buruk di tempat yang sudah disediakan dipercaya dapat meninggalkan nasib buruk itu pula.
 


 
Perlahan mimin-san beranjak meninggalkan bagian utama kuil dan beranjak keluar menuruni anak tangga bersama dengan rombongan pengunjung yang telah usai melakukan ritual awal tahun ini. Tepat sebelum menuruni anak tangga, mimin-san membungkukkan badan satu kali sebagai penghormatan dan sebagai ucapan selamat tinggal kepada keindahan Kuil sang Dewa Perang sambil berharap dalam hati agar dapat bertamu lagi ke tempat ini pada hari pertama di tahun yang akan datang.
 

 
 
Tidak lupa pula Terimakasih yang sebesar besarnya untuk salah satu foto grafer berbakat bernama Sabila yang menjadi salah satu teman perjalanan mimin-san selama di Usa Hachimangu dan berhasil menangkap momen momen selama perjalanan dalam foto foto ini. Semua kredit dari foto foto di postingan ini ditujukan untuk Sabila, jika minna-san ingin melihat lebih banyak hasil jepretan dari foto grafer berbakat ini silahkan intip instagramnya @sabilagram
 
 
Sekali lagi walopun telat, Selamat Tahun Baru 2015 dari okonomikatsu minna-san!! あけましておめでとうございます!!
 

     Author:
Hamyo