Sejarah Panjang dibalik Kesuksesan Pocky - Okonomikatsu

Post Top Ad

Selasa, 30 April 2013

Sejarah Panjang dibalik Kesuksesan Pocky



Image source
Selain manga, anime, AKB48, dan Hatsune Miku, ada satu hal lagi dari Jepang yang sangat populer hampir di seluruh  dunia. Pocky!! jika saja uang hasil penjualan pocky di berbagai negara dari masa ke masa diibaratkan sebagai fans, maka jumlah fans AKB48 dan Hatsune Miku sekalipun tidak bisa menyamainya. Lalu siapakah seorang tokoh dibalik kesuksesan dan kepopuleran Pocky saat ini? Apa saja cerita menarik, pengorbanan, sampai pada keberhasilan nya saat ini?


Keluarga Ezaki, sebuah keluarga yang sangat luar biasa memulai bisnis mereka dengan membuat berbagai inovasi di sektor pangan. Pocky merupakan salah satu inovasi tersukses di bawah naungan perusahaan keluarga Ezaki Glico sejak tahun 1922, untuk saat ini perusahaan Ezaki Glico di ketuai oleh Katsuhisa Ezaki yang saat ini menjabat sebagai CEO ekaligus Presiden perusahaan. Setiap tahunnya Pocky terjual sebanyak 300 juta kotak di pasaran internasional dari berbagai negara sedangkan 200 juta kotak lainnya sukses terjual di Jepang, WOW!!

Image source
Pocky mulai mendulang kepopulerannya setelah berkembang dari produk bernama Pretz (“Purittsu” dalam bahasa Jepang) Ezaki Glico memulai inovasi dengan menambahkan balutan coklat pada biskuit batangan Pretz yang saat itu sudah berhasil menjadi produk paling banyak terjual dan kemudian memasarkannya kembali dengan nama “chocotek”, hmmm… nama yang tidak terlalu menarik dibandingkan pretz dan pada akhirnya atas kebijakan perusahaan nama tersebut diubah menjadi Pocky yang terinspirasi dari suara patahan stick batangan tersebut saat dimakan yang berbunyi “pokkin” (dalam bahasa Jepang) . Pocky secara resmi mulai dipasarkan pada tahun 1966, dengan harga perkotaknya dibandrol senilai ¥60. Apa yang terjadi setelah itu? Sebuah kesuksesan besar!! yang kemudian membuat perusahaan Ezaki Glico meraup sekitar ¥30 miliar! pada tahun pertama penjualan pocky yang baru saja diluncurkan di pasaran.

Bagaimana awal dari semua ini?

Mari kita kembali ke era jauh sebelum pertz bahkan pocky yang telah mendulang keuntungan besar besaran pada saat ini, ke masa dimana semua ini berawal. Jika Pocky adalah seorang anak, maka Riichi Ezaki adalah “Ayah” eeeh…… sekaligus Ibu juga, Beliau lah yang menemukan sebuah gagasan brilian untuk inovasi makanan yang merupakan awal mula kelahiran Pocky. Pada tahun 1911 setelah meninggalnya anak beliau, Riichi Ezaki mengasingkan diri ke sebuah perkampungan nelayan.

"Riichi Ezaki, Father of Pocky dan Empunya Glico :) "
Ada hal menarik yang ia perhatikan selama berada disana, Para anak anak di perkampungan nelayan tersebut terlihat sangat bugar dan sehat meskipun mereka bermain sepanjang hari. Dari hasil penelitiannya dia menemukan sebuah fakta bahwa seluruh anak anak di perkampungan nelayan tersebut selalu mengkonsumsi tiram pada menu makanan sehari hari mereka, bermula dari sini Riichi Ezaki mulai meneliti apa kandungan khusus yang ada pada tiram tersebut maka ia menemukan bahwa tiram yang sering dikonsumsi oleh anak anak di perkampungan nelayan tersebut kaya akan kandungan Glikogen.

Sadar akan besarnya pengaruh zat glikogen terhadap kesehatan, ia memulai menyaring kandungan glikogen pada tiram tersebut dan menggunakannya sebagai zat tambahan pada makanan, khususnya untuk penganan ringan untuk anak anak. Riichi Ezaki memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan anak anak di Jepang melalui produk penganan. 

"Produk pertama dari Glico"
Produk pertama yang dipasarkan oleh perusahaannya saat itu bernama “Glico” yang diambil dari nama perusahaan sekaligus terinspirasi dari kandungan “Glycogen” pada produk makanan tersebut. Glico adalah sebuah produk permen rasa karamel yang dikemas dalam kotak bersama mainan anak anak, produk ini resmi dipasarkan pada 11 februari 1922 di Osaka Mitsukoshi Department Store.

Dimualinya masa krisis

Image Source

Dimana ada kesuksesan disitu pula akan ada cobaan. Pada era perang dunia ke 2 tepatnya pada tahun 1945 pusat pembangkit listrik di Tokyo dan Osaka hancur akibat dari serangan udara,  pusat produksi perusahaan Glico terpaksa dipindahkan ke tempat produksi sementara. Tidak hanya itu saja, titik krisis terparah pada perusahaan Glico bisa dikatakan terjadi pada tahun 1980-an, era dimana  kriminal yang dijuluki “Phantom with 21 faces” meraja lela dengan berbagai macam tindak kejahatan. Sebenarnya nama geng kriminal tersebut adalah nama geng yang ada pada salah satu cerita di Novel karya Edogawa Rampo. Kode Nama tersebut marak digunakan oleh para kriminal Jepang di era tersebut salah satunya dengan mengirim surat ancaman dengan mengatas namakan “Phantom with 21 faces”. Salah satu tindak kriminal “Phantom with 21 faces” adalah menargetkan perusahaan penganan kudapan snack di Jepang termasuk Glico, Morinaga, juga beberapa perusahaan makanan seperti Marudai Ham dan House Food Corporation.

"Novelis Edogawa Rampo"
Geng kriminal tersebut mencampur beberapa produk dari perusahaan yang menjadi target mereka dengan kandungan zat kimia berbahaya berupa sianida sehingga menimbulkan kepanikan publik. Beberapa perusahaan memutuskan untuk menarik semua produk mereka dari pasaran termasuk glico yang pada saat itu mengalami kerugian besar dari total produk yang telah dipasarkan dan ditarik kembali. Diperkirakan kerugian yang diderita perusahaan Glico pada saat itu adalah sekitar  21 miliar dollar!! Sehingga perusahaan terpaksa mengambil kebijakan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja perusahaan yang berhujung pada pemecatan sekitar 450 pekerja paruh waktu di pabrik Glico.

Pada tahun 1984 adalah titik terbawah dari krisis yang dialami Glico yang berhujung pada penculikan Katsuhisha Ezakia oleh geng criminal tersebut. Permintaan tebusan dilayangkan kepada Glico sebesar ¥1 milliar dan 100 kilogram emas batangan. Beruntung Katsuhisha berhasil melarikan diri dari tempat penyekapan pada 3 hari sesudah penculikan tersebut, sayangnya konsekuensi yang diterima menjadi lebih parah ketika gedung perusahaan Glico dibom oleh para geng kriminal yang gagal mendapat tebusan tersebut, pengeboman ini berhujung pada kerugian yang lebih besar dari biaya tebusan itu sendiri.

Inovasi berlanjut, Glico mulai bangkit kembali

Image source
Pada tahun 1985, kerusuhan akibat kelompok kriminal yang meraja lela telah berakhir dengan dideklarasikannya secara langsung oleh ketua kelompok kriminal tersebut. Akan tetapi penderitaan serta kerugian yang telah diderita tetap tidak bisa dipungkiri, Glico masih berusaha bangkit dengan berbagai macam inovasi dan kebijakan marketing perusahaan. Pada tahun 1982 Glico memulai langkah besar yang bisa dikatakan menjadi pengaruh terbesar untuk keberhasilan yang mereka capai pada saat ini. Pada tahun tersebut, Pocky secara resmi di lepas ke pasar internasional dengan memulai distribusi di benua Eropa. Pocky yang dijual di Eropa di beri nama “Mikkado” yang diambil dari permainan mengambil stick di kalangan anak anak eropa saat itu, hingga kini nama “Mikkado” masih menjadi nama produk resmi Pocky yang dipasarkan di beberapa negara di benua eropa salah satunya United Kingdom.

Inovasi demi inovasi terus berlanjut selain kesuksesan Pocky yang mulai didistribusikan di pasaran Internasional, Perusahaan Glico terus menghasilkan berbagai produk baru salah satunya pada tahun 1986, ada 3 produk hasil inovasi yang diproduksi glico dan berhasil dilepas kepasaran yaitu, "LEE" sebuah produk kari daging sapi instan dengan 4 tingkat kepedasan yang berbeda,  lalu permen es krim “Ice no Mi”, dan diluncurkannya iklan produk “KissMint Gum”, iklan produk ini mendapat penghargaan Gold Lion Awards pada event International Advertising Film Festival yang digelar di Cannes, Prancis pada tahun 1989.

Image source             "Ice no Mi, permen es krim dgn rasa buah"

Image Source                 "KissMintg Gum"

"Kare LEE"
Inovasi masih terus berlanjut hingga saat ini, perkembangan yang tebaru adalah Glico berusaha mengembangkan ekstraksi dari zat selulosa yang terkandung dalam kayu. Pengembangan ini nantinya diharapkan akan menghasilkan sebuah produk snack, permen, atau pun kudapan. Hmmm… berarti suatu saat aka nada permen yang terbuat dari Kayu!!?? Teruskan Glico, teruskanlah.

Hingga saat ini Glico berhasil mendapatkan keuntungan dari kapasitas  pasar internasional sebesar $119 juta, Pocky telah di produksi lebih dari 100 varian rasa yang berbeda dan setiap tahunnya Glico memasarkan sekitar 6 hingga 8 varian rasa yang baru dari Pocky.  Sebuah pemikiran cerdas dari sang pendiri Riichi Ezaki serta kerja keras dari generasi ke generasi untuk terus bangkit dari krisis terburuk sekalipun yang menimpa perusahaan, sudah sepantasnya Glico mendapatkan sukses besar besaran dari inovasi yang mereka ciptakan.

Image source

Minna-san suka makan pocky? sudah berapa varian rasa yang minna-san cicipi? gimana tuh perjuangan Riichi Ezaki dan juga para pemimpin Glico untuk memperjuangkan Pocky dari masa ke masa? ayo share pendapat minna-san dikolom komentar ya. Douzoo... 

Site Reference:



Author:
Hamyo 

1 komentar:

  1. ternyata di jepang pocky bukan hanya ada rasa coklat, tapi rasa yang lain juga banyak.

    BalasHapus

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here